We have been using Dyson Air Purifier for almost three years and we have changed the filter two times. In Indonesia, the price of the filter gets higher as years went by. First time we changed the filter, it was only IDR 700K, last year it was IDR 1,5 millions. I dont know how much it is this year but I will check it soon as the indicator already told us that the filter was full.
I have been very happy to have Dyson air purifier in our bedroom. With its technology, I experienced allergy of pollutants only once or twice a year. It works like magic because before Dyson, I always got morning flu. Maybe because it automatically removes 99.95% of harmful ultrafine particles as small as PM0.1. The air feels fresh and with its technology we can know how much polluted is our room.
Another great point is Dyson air purifier can be used as fan! Yes a great fan, considering we love in a humid and tropical country. It also does not produce any weird sounds like some other air purifier. It akso has a very nice and elegant appearance. You can connect it through wifi and you can turn it on even though you are not in your room! How cool is that! I really really love Dyson products!
Sri
Saturday, May 30, 2020
Monday, March 2, 2020
Resep Minuman Penangkal Virus Corona
Di penghujung tahun 2019, dunia dikejutkan dengan mewabahnya Virus Corona (Novel Covid 19). Virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, Cina, telah menyebar ke banyak negara termasuk Indonesia. Baru kemarin tanggal 2 Maret 2020, Pemerintah Indonesia mengonfirmasi terdapat dua orang Indonesia yang terjangkit Virus Corona. Efeknya masyarakat jadi panik dan banyak memborong masker dan hand sanitizer. Masyarakat lupa bahwa yang paling penting adalah meningkatkan imun tubuh sehingga tubuh kita tidak kena virus atau jika amit-amit kena virus, maka akan cepat sembuh. Keluarga kami punya minuman alami yang dapat meningkatkan imun tubuh dari berbagai macam virus termasuk Virus Corona. Ahli kesehetan menyampaikan bahwa untuk menangkal virus corona adalah dengan menangkal badai sitokin yang tak lain sebuah proses biologis dalam paru karena adanya infeksi virus itu. Di sinilah peran Curcumin yang ada pada jahe dan kunyit. Madu dan jeruk nipis dapat juga memperkuat daya tahan tubuh. Berikut resepnya:
1. Satu rimpang jahe seukuran telunjuk orang dewasa
2. Satu rimpang kunyit seukuran jempol orang dewasa
3. Satu buah jeruk nipis atau seperempat buah lemon impor
4. Madu 2 sendok makan
5. Air bersih sekitar 200 ml panaskan (atau ambil langsung air hangat 200 ml di dispenser)
Cara membuat:
Cuci bersih jahe dan kunyit kemudian kupas kulitnya. Potong kecil kunyit dan jahe tersebut. Kemudian setelah dikupas, dicuci dan dipotong kecil, blender bersama dengan air bersih kunyit dan jahe tersebut hingga halus. Setelah halus, saring dan masukkan ke dalam gelas. Di dalam gelas, ramuan kunyit dan jahe tersebut tambahkan dengan 2 sendok madu dan perasan jeruk nipis atau lemon. Kemudian minum selagi hangat. Ampas kunyit dan jahenya jangan langsung dibuang, tambahkan air di dalamnya ampas kunyit dan jahe lalu taruh di kulkas. Air ampas kunyit dan jahe tersebut saring jika ingin diminum. Tetap berkhasiat karena dijadikan infuse water.
Selamat Mencoba!
Pengalaman Horor di Jepang!
Wah saya pernah mengalami kejadian mistis di Jepang! Kalau diingat-ingat horor sekali sampai saya selalu merinding tiap cerita kejadian ini. Jadi ceritanya, pertama kali saya ke Jepang itu tahun 2010. Pada waktu itu, karena saya ikut program student exchange, saya tinggal bersama dengan keluarga Jepang di Kota Yokohama, sekitar 47 menit dari Tokyo naik kereta. Nah kampus saya itu Keio University di Tokyo, jadi saya tiap hari harus ke Tokyo dari Yokohama. Awal-awal saya tinggal di Jepang, keluarga host saya selalu mengantarkan saya dari rumah ke stasiun kereta. Jarak dari rumah ke stasiun kereta itu sekitar 15–20 menit jalan kaki melewati kebun-kebun sayur dan rumah-rumah lainnya. Pagi hari saja lumayan sepi, saya mikirnya wah apalagi malam hari. Sampai saya sudah seminggu di Jepang, keluarga host saya sudah tidak lagi mengantar saya ke stasiun, mereka mikirnya saya sudah hapal. Memang saya sudah hapal sih rute dari rumah ke stasiun.
Nah bagian horornya adalah saat saya kebetulan malam itu harus pulang agak telat dari Tokyo karena diajak teman-teman buat dinner bareng. Jadi saya pulang dari Tokyo itu sekitar pukul 8 malam. Otomatis saya sampai di Yokohama sudah sekitar pukul 8.50 malam. Suasana stasiun juga sudah lumayan sepi. Saya beneran sudah parno banget demi apapun karena saya memang orangnya penakut. Tapi ya mau gimana lagi, tidak sopan kalau minta antar jemput terus kan. Akhirnya yasudah saya jalan keluar dari stasiun, masih aman-aman saja, saya tidak merasakan keanehan. Nah keanehan mulai terjadi saat saya jalan nyebrang rel tua. Setelah nyebrang rel itu, saya merasa seperti diikuti seseorang. Sumpah saya masih merinding ketika menulis ini.
Ketika ngerasa diikuti, saya mikirnya oh mungkin orang lain yang baru pulang kerja, tapi kok saya rasanya takut sekali. Makin lama makin intens itu yang ngikutin saya, apalagi ketika saya lewat tanah kosong kayak kebun yang ditanami sayuran gitu. Saya agak lari-lari kecil biar jarak agak jauh dengan yang ngikutin, tapi eh malah makin dekat rasanya. Saya penasaran jadi saya nengok ke belakang. To my surprise, ternyata tidak ada manusia yang ngikutin saya! Langsung saya tahu kalau saya dikerjain sama makhluk dimensi lain. Saya lari sambil baca segala surat pendek, al fatihah, ayat kursi. Sampai di rumah host saya, saya dibukakan pintu dan saya langsung masuk ke kamar. Kamar saya itu dindingnya bukan tembok dan posisinya agak depan, jadi ketika saya mencoba tidur, saya dengar kok di halaman depan rumah berisik sekali suara orang lewat. Terlihat bayangan orang lewat di halaman rumah. Saking ketakutannya, saya tutup muka pakai selimut dan akhirnya ketiduran.
Besok paginya, saya tanya dengan keluarga host saya, apakah tadi malam otousan atau okasan ada yang sedang beres-beres taman, dan mereka kompak menjawab tidak ada. Sehabis membukakan saya pintu, okaasan langsung masuk kamar lagi katanya. Dan lagi katanya mustahil orang jalan-jalan di taman rumah karena di depan kamar saya itu bunga mawar yang kalau orang lewat pasti tertusuk duri mawar yang tajam-tajam. Deg! Jadi yang tadi malam lewat depan kamar saya itu siapa??!!
Sunday, February 9, 2020
Jalan-Jalan ke Paris Membawa Anak Umur 2 Tahun
Ketika Kawa berumur 2 tahun, saya dan suami memang berencana untuk membawa Kawa jalan-jalan ke Paris. Kenapa Paris? Karena Paris adalah salah satu kota penuh kenangan karena saya pernah tinggal di sana selama dua tahun saat kuliah S2. Selain itu, saat ini, adik laki-laki saya juga sedang menempuh sekolah master di
sekalian nengokin om nya. Kami cukup lama jalan-jalan di Paris, sekitar 2 mingguan. Setelah lulus dari S2, ini merupakan kali kedua saya mengunjungi si “kota cahaya”.
Dari Indonesia, kami terbang naik Etihad dan transit di Abu Dhabi sebelum menuju Paris. Ini adalah pengalaman pertama anak saya jalan-jalan ke luar negeri dan langsung ke Paris! Kawa terlihat sangat senang sekali naik pesawat dengan perjalanan panjang. Kawa sudah terbiasa naik pesawat dari umur kurang dari 3 bulan, tapi biasanya penerbangan singkat selama kurang dari tiga jam. Perjalanan ke Paris ini sejauh ini adalah perjalanan terpanjang Kawa berada di dalam pesawat. Kawa memang suka sekali dengan pesawat terbang, dia punya beberapa miniatur pesawat terbang di rumah dan juga dia suka sekali memainkannya.
Saat tiba di Paris dan sedang menunggu koper kami datang, Kawa made friends dengan anak Prancis seumuran Kawa. Mereka asik bermain padahal baru kenal dan masing-masing tidak mengerti bahasa satu sama lain. Hahaha... Memang anak kecil seperti punya bahasa sendiri ya. Setelah semua koper kami datang, kami bergegas keluar dan di luar sudah menunggu adik saya. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kami langsung antri taksi. Ternyata kami dapat supir taksi asli Myanmar yang sudah lama tinggak di Paris dan tahu Ahok. Sepanjang perjalanan kami ngobrol tentang Ahok, dan ternyata bapak supir taksinya seorang muslim. What a suprise to find a moslem Bhutanian. Entah kenapa ongkos taksi yang kami bayar saat itu paling murah dibandingkan ongkos taksi yang pernah saya bayar sepanjang bolak balik Indonesia-Perancis. Kami hanya membayar 55 euro, padahal biasanya saya bayar hingga mencapai 70an euro.
Di hari pertama dan kedua kami menginap di apartemen adik saya, cuma karena adik saya sharing apartemen dengan orang lain dan flatmate nya menyebalkan, akhirnya kami pindah ke hotel dan AirBnb. Selama di Paris kami mengunjungi banyak tempat-tempat yang sering saya kunjungi ketika tinggal di Paris. Tentu saja kami ke Eiffel, Louvre, dan tempat-tempat turistik lainnya. Tapi membosankan sekali jika hanya ke tempat-tempat penuh turis. Saya tahu beberapa hidden gem yang turis tidak tau. Makanan pun kami lebih banyak makan di restoran Asia, walau sesekali juga kami ke restoran Prancis atau Italia. Saya tidak suka berhemat kalau sedang liburan, liburan itu harus menyenangkan. Jadi kalau liburan masih hemat-hemat, lebih baik tidur saja si rumah. Ngapain liburan cuma foto-foto saja, tidak mencoba makanan khas daerah sana, tidak naik taksi, tidak belanja?
Ketika liburan di Paris kali ini kami sempaktkan ke Disneyland karena ini adalah pengalaman Disneyland pertama Kawa. Disneyland Paris adalah satu-satunya Disneyland yang ada di Eropa setau saya. Ketika kami ke Disneyland, Kawa sangat excited mencoba banyak wahana di Disneyland. Kawa tidak terlalu suka karakter-karakter Disneyland jadi kami bisa mencoba banyak wahana instead of ngantri foto. Kalau lapar di Disneyland, ada banyak restoran di dalam Disneyland dan rasanya enak-enak. Kalau mau ngemil? Tinggal beli popcorn dan Kawa kemarin sekalian beli popcorn bag yang bergambar semua karakter Disneyland. Kawa juga kami belikan mainan-mainan Disneyland.
Kawa juga saya ajak ikut ketemuan dengan teman saya anak Perancis tapi keturunan Maroko. Kami ketemuan di apartemennya karena teman saya sedang hamil besar. Kami disuguhi crepes, flan, dan kue-kue Perancis lainnya. Dan di apartemennya, kami dibuatkan teh mint Maroko, duh nikmat! Ketika kami perjalanan pulang ke bandara, teman saya melahirkan, wah berarti waktu itu mungkin bayinya sudah tidak sabar ingin dilahirkan, hehe...
Karena Paris belum musim sale, saya tidak belanja banyak, hanya beberapa barang seperti tas dan parfum yang kalau di Indonesia haganya bisa dua kali lipat, kalau di Paris bisa dapat lebih murah. Saya juga buka jastip, tapi ya dadakan, jadi tidak bisa dibilang untung gede juga, lumayan lah buat membantu teman-teman yang kepingin barang lebih murah dari harga store di Indonesia.
Itu lah pengalaman saya selama jalan-jalan ke Paris bersama anak saya yang saat itu baru berumur dua tahun, suami saya, dan adik perempuan saya. Semoga lain waktu bisa lebih lengkap mengajak adik bungsu saya, ayah, ibu, mertua, dan ipar saya. Aamiin. See you!
SR
Saturday, February 8, 2020
Pengalaman Traveling ke Maroko
Saya pertama kali ke Afrika itu tahun 2014 dan negara Afrika pertama yang saya kunjungi adalah Maroko. Saya dari dulu selalu penasaran dengan Benua Afrika. Benua ini penuh misteri dan sangat eksotis menurut saya. Saya ke Maroko di penghujung kuliah Master saya di Paris. Saya kasih diri saya kado buat ke Afrika karena waktu itu saya mendapat offer S3 dari University of Cambridge dan juga mendapatkan beasiswa Jardine Foundation (yang karena satu dan lain hal saya tidak jadi berangkat S3 ke Cambridge). Anyway, saya ke Maroko saat itu bersama adik kelas saya, anak Indonesia juga, tapi beda angkatan. Dia yang atur semua itinerary nya karena pada saat dia mengatur itinerary, saya sedang mempersiapkan untuk sidang thesis, jadi saya percayakan saja itinerary nya ke dia.
Dari awal dia bilang bahwa kami akan naik low-cost carrier dari Paris ke Marrakesh, tapi terus terang saya lumayan kaget karena itu adalah penerbangan pertama saya dengan pesawat murah. Saya jujur deg-degan karena yang saya bayangkan pesawat seperti itu kualitasnya mungkin seburuk pesawat-pesawat murah di Indonesia. Ternyata selama beberapa jam penerbangan, pesawat-pesawat penerbangan murah lumayan juga kualitasnya. Sesampainya di Marrakesh, sebagai orang Indonesia, saya senang sekali karena entah kenapa proses imigrasinya cepat. Oh iya, orang Indonesia pada tahun 2014 masih bebas visa ke Maroko.
Dari bandara, saya ingat kami dijemput kenalan adik kelas saya dan kami dibawa ke hotel kami. Kalau biasa hidup di Eropa, hotel-hotel di Maroko (lebih tepatnya di Marrakesh) itu murah-murah. Harganya tidak sampai 40 euro dan kami sudah mendapatkan hotel dengan lokasi yang strategis, dekat dengan Jemaa el Fna Square. Hari pertama tiba di Marrakesh saya dan adik kelas saya langsung berkunjung ke infamous Jemaa el Fna Square. Di sana ada pertunjukan ular seperti di India, suasananya ramai sekali dipenuhi stands penjual makanan, souvenirs, dll. Siang hari yang panas terik, saya sampai menghabiskan banyak sekali jus buah yang harganya 50 dirham setara 5 euro. Lumayan mahal juga tapi what do you expect. It’s the famous Jemaa el Fna Square.
Begitu malam tiba, suasana di sekitaran Jmaa el Fnaa makin meriah. Kami duduk di restoran di sekitaran Jmaa el Fnaa, makan Salad Maroko yang ya ampun enak banget, Tagine yang enak juga dan ditaruh di alat masak yang unik sekali bentuknya, Mechoui yang merupakan domba panggang. Sayangnya, saya pernah ditipu 100 dirham cuma untuk membuat henna di tangan yang dikerjakan tidak sampai 10 menit oleh mbak-mbak lokal Marrakesh. Saya juga mencoba pijat badan yang pegel-pegel di Marrakesh dan ended up membayar hampir 500 dirham atau setara 50 euro. Tapi tidak apa-apa, sebagai turis kita harus mendukung ekonomi lokal dan hitung-hitung sedekah.
Favorit saya kalau ngemil-ngemil itu saya makan sejenis keong seperti escargot tapi direbus di salah satu stand di Jmaa el Fna. Rasanya enak sekali dan hanya 10 dirham atau setara 1 euro. Pagi-pagi saya skip sarapan gratis dari hotel dan langsung bergegas ke restoran di sekitar Jemaa el Fnaa dan memesan teh mint khas Maroko yang enak banget. Bayangkan minum teh mint hangat di udara Marrakesh yang dingin dengan pemandangan yang bagus sekali, duh saya jadi kepingin berkunjung ke Marrakesh lagi.
Selama 1 minggu di Maroko, kami menyewa tour guides lokal yang berbahasa Inggris walau seadanya. Untungnya kemampuan Bahasa Perancis saya pada saat itu sudah lumayan. Kami dibawa jalan-jalan ke lokasi syuting film-film terkenal di Aait-ben-haddou. Di sini saat matahari lagi terik-teriknya, udara sedang panas-panasnya, temperatur sekitar 40 derajat celcius. Saya sempatkan manjat-manjat naik kubah ke perumahan warga yang luar biasa loh. Rumah mereka terbuat dari tanah liat yang kalau musim panas di dalam rasanya adem, dan kalau musim dingin di dalam rasanya hangat.
Saya juga sempat menginap di Gurun Sahara. Perjalanannya, setelah turun dari mobil, langsung disambut unta-unta untuk ditunggangi, terus dibawa ke tengah gurun yang sudah ada banyak tenda mengelilingi. Dalam paket tur itu kami sudah mendapatkan makan malam dan makan pagi. Saat pertama tiba di lokasi tenda-tenda di tengah gurun itu kalau tidak salah hari sudah sore. Tentu saja saya parno sekali ya Tuhan, saya takut sekali ada ular di dalam tenda tempat tidur saya, sehingga saya hampir tidak bisa tidur. Untungnya, banyak turis main gitar, nyanyi, dan menari mengelilingi api unggun, jadinya daripada ketakutan tidak bisa tidur, saya memilih menikmati malam hari di Gurun Sahara, sambil minum teh, di depan api unggun. Nikmat sekali.
Ada beberapa tempat wisata lain yang saya lupa namanya, banyak pohon-pohon palem di sekitarnya. Sayang sekali saat itu saya tidak banyak berfoto dan mengabadikan momen dan tempat-tempat wisata yang cantik sekali di Maroko, sehingga saya lupa nama tempat-tempat itu. Tapi kalau ada kesempatan lagi untuk ke Maroko, saya harus membuat catatan nama-nama tempat dan pengalaman saya selama di sana, supaya lebih detail. Lumayan buat memory lane seperti mesin waktu.
Sunday, January 5, 2020
Apakah Konflik Natuna Dapat Menyebabkan WWIII
Menurut saya, konflik di Natuna sangat mungkin menyebabkan hubungan antar negara memanas namun jika dikaitkan dengan kemungkinan World War III (WW III) saya rasa kemungkinannya kecil. Ada beberapa alasan kenapa kecil kemungkinan konflik Natuna berujung WW III.
Alasan pertama, Tiongkok sebagai negara pencetus konflik di Natuna merupakan salah satu negara ekonomi besar yang tentunya memerlukan pasar besar untuk produk-produknya. Intense perang dagang yang terjadi antara Tiongkok dan Amerika Serikat setidaknya sudah mengurangi pasar produk-produk Tiongkok di wilayah berpenduduk banyak. Indonesia sudah terkenal sebagai pasar besar dari produk-produk Tiongkok, dan Tiongkok tentu paham bagaimana resiko ekonomi yang mungkin terjadi jika Pemerintah Indonesia melarang produk Tiongkok masuk ke Indonesia.
Alasan kedua, walaupun kesannya Konflik Natuna ini adalah konflik antara Indonesia dan Tiongkok, tapi keadaan sebenarnya bisa jadi berbeda. Ada banyak kepentingan politik maupun ekonomi negara-negara maju lainnya di Indonesia, dan mereka tentu tidak akan membiarkan Indonesia hancur berperang dengan negara lain karena sekali lagi, Indonesia adalah pasar besar nan menguntungkan bagi negara lain. Belum lagi, jika ada banyak investasi yang sudah dilakukan di Indonesia dan belum balik modal. Tentunya pengusaha-pengusaha dari negara lain yang sudah berinvestasi di Indonesia akan sangat memantau kondisi politik dan keamanan Indonesia agar bisnis mereka tidak merugi.
Alasan Ketiga, Indonesia adalah salah satu negara yang berpengaruh di Kawasan Asia Tenggara dan tergabung dalam ASEAN. ASEAN sendiri telah memiliki banyak kerjasama antar kawasan. ASEAN juga bahkan banyak melakukan kerjasama dengan Tiongkok, jadi jika terjadi konflik antara Indonesia dan Tiongkok, tentu negara-negara ASEAN lainnya akan membantu untuk mendamaikan kedua negara tersebut.
Jadi, Konflik Natuna mungkin dapat membuat hubungan antara Indonesia dan Tiongkok memanas, namun jika dihubungkan dengan Perang Dunia Ketiga sepertinya kemungkinannya kecil.
Friday, January 3, 2020
Tips Bikin Visa Schengen Prancis
Sebagai Warga Negara Indonesia yang kekuatannya paspornya masih biasa-biasa aja, maka kita harus bikin Visa Schengen kalau mau melancong ke negara-negara Eropa Barat yang tergabung dalam Visa Schengen. Entah mengapa kekuatan paspor kita masih segitu-gitu aja dari zaman saya kuliah HI tahun 2008 sampe sekarang udah 2020. Bandingin deh sama paspor Malaysia, mereka lebih kuat loh, at least mereka bisa free masuk negara-negara Schengen sampe 3 bulan, ke UK mereka bisa free sampe 6 bulan. Lah kita? Ke Belanda aja tetep harus urus Visa Schengen padahal kita punya hubungan historis sama Belanda sampe 350 tahun. Mungkin yang baca sekalian bisa bantuin ngomong ke pihak Kemlu, plis bantuin lah warga negara kita dengan bikin kekuatan paspor kita meningkat. Seenggaknya free masuk negara-negara maju at least sebulan aja, lebih dari itu ngurus visa nggak apa-apa. Jangan bule aja yang free masuk Indonesia, eh malah ujung-ujungnya banyak yang ngemis. Anw maaf curhat ya, habisnya saya selalu kesal kenapa kita tetep harus ngurus visa dengan persyaratannya yang ribet dan banyak, dan tamu dari negara lain malah gampang banget masuk negara kita.
Kalau dihitung-hitung, saya sudah lebih dari lima kali ngurus Visa Schengen, baik buat tourism maupun buat sekolah, semoga ke depannya bisa untuk urusan bisnis, aamiin. Sejauh ini sih visa saya selalu di-approved. Dari pengalaman-pengalaman itu, saya mau share beberapa tips nya. Berikut tipsnya:
1. Lengkapi semua syarat bikin Visa Schengen
When I say lengkapin itu berarti bener-bener lengkap seperti yang diminta sama pihak TLS dan kedutaan. Jadi nih ya, kalau pas wawancara kamu diminta lengkapin dokumen sampe jam 2 siang, itu artinya beneran sampe jam 2 siang ditungguinnya, ga bisa lebih dari itu. Kalau misal diminta cap basah, artinya cap basah yang dilampirin, jangan yang difotokopi.
2. Ramah ke Mbak/Mas TLS
Sebenernya nih ya, dokumen kita sebelum masuk ke Kedutaan Prancis kan diperiksa dulu tuh sama Mbak/Mas TLS, jadi ya mereka selektor yang pertama harus kamu hadapi. Emang mereka kadang jutek sih ya, mungkin capek mungkin bosen, tapi yaudahlah kita ramah-ramah aja sama mereka, toh nggak ada salahnya ramah dan bersikap baik ke orang lain.
3. Jumlah Rekening Koran Penting!
Banyak banget blog yang bilang “ga apa-apa kok lampirin rekening koran dengan jumlah yang dikit, ge keterima-keterima aja tuh” Emang iya ada aja yang beruntung kayak gitu, tapi mending di tabungan kamu ada beberapa puluh juta per orang biar aman. Tujuan mereka ngasih visa kan biar kita bisa berkunjung ke negara mereka dan BELANJA. That’s it, ngabisin duit di negara mereka. Jadi logikanya kalau duit kamu dikit, dan nggak ada yang sponsorin ke negara mereka, kira-kira mereka bakal mikir berkali-kali banget nggak sih ngasih kita visa. Mereka malah khawatir kita jadi beban negara mereka nantinya. Jadi tetep, isi rekening harus mayan, kalau bisa gendut.
4. Urus visa at least 1 bulan sebelum keberangkatan
Dulu sih jalan-jalan ke negara-negara Eropa Barat susah, sekarang dengan fasilitas-fasilitas Fintech dan hutang dulu pusing kemudian, jalan-jalan ke Eropa sangat mudah, sehingga antrian bikin visa biasanya panjang dan lama. Kalau berangkatnya mepet-mepet (kecuali untuk hal yang matter banget), kemungkinan visa ditolak besar sekali. Tapi ya coba aja, kali aja hoki di-approved visa nya.
5. Pakai fasilitas Premium nya TLS
Fasilitas ini nggak mempercepat kecepatan visa di-approved, tapi demi kenyamanan jiwa dan raga saat proses wawancara dan biometrik yang mungkin ngaruh ke psikologis Mas/Mbak TLS, maka jadi orang-orang premium amat penting. Bayar lebih mahal tapi nggak harus antri, dapet snack dan minuman selagi nunggu, less drama, OH YES PLEASE!
Itu tadi tips dari saya. Nggak menjamin Visa Schengen kamu di-approved ya, tapi ya seenggaknya membantu jiwa dan raga terhindar dari drama. Kalau masalah visa diterima apa nggak, itu urusan Tuhan, pihak kedutaan negara tujuan, dan mas/mbak TLS yang tau. Anw good luck ya yang mau apply visa schengen. Tenang aja bro dan sis, all is well!
Love,
SR
Subscribe to:
Posts (Atom)














